Penerima Beasiswa Kamajaya : Dony Enggal Pamungkas

NAMA

DONY ENGGAL PAMUNGKAS

FOTO

TANGGAL LAHIR

31 Desember 1996

KOTA ASAL

Yogyakarta

STUDI

Fakultas Teknik UAJY Prodi Teknik Sipil semester 5 (Oktober 2018)

SAYA INGIN MEMBANGGAKAN ORANGTUA DAN BERGUNA BAGI ORANG LAIN

Nama saya Dony Enggal Pamungkas, lahir di Yogyakarta, 31 Desember 1996. Saya anak kedua dari dua bersaudara. Ayah saya bernama Burhan (almarhum) lahir di Palembang, 17 Juni 1962, ibu saya bernama Riyatun lahir di Yogyakarta, 20 Juni 1960, dan kakak saya bernama Eko Prasetyo lahir di Yogyakarta, 24 Juni 1982. Sejak kecil saya tinggal di Jatimulyo TRI/711 RT 24 RW 05 bersama kedua orangtua dan kakak saya, serta beberapa saudara sepupu. Rumah saya berdempetan dengan rumah nenek karena dulunya satu pekarangan.

Saat dimana saya sedang meringkas sembari menunggu sesi berikutnya.

Jenjang pendidikan saya diawali dari TK Tarakanita Bumijo, SD Tarakanita Bumijo, SMP Stella Duce 1, SMA BOPKRI 1. Walaupun saya bersekolah dengan latar belakang swasta dari TK-SMA bukan berarti saya dari keluarga yang berada. Saya dapat bersekolah di swasta karena sempat mendapat bantuan dari saudara ayah saya.

Dulu keluarga saya bisa dibilang sangat berkecukupan dan tidak kekurangan suatu apa pun, karena ayah saya memiliki sebuah pabrik mesin plastik di daerah Palur Solo. Namun saat saya kelas 2 SD, ayah saya meninggal dunia saat sedang melakukan perjalanan Solo-Jogja tepat pada 24 November 2004 dikarenakan sakit jantung. Setelah ayah saya meninggal, sangat terasa perbedaan yang terjadi di hidup saya dan keluarga saya. Pabrik yang dulunya dikelola ayah saya berpindah tangan kepada om saya, namun beliau tidak mau mengerti dengan keadaan keluarga saya. Ibu saya yang hanya lulusan SD juga tidak bekerja/tidak memiliki usaha saat itu. Namun untungnya, biaya sekolah saya saat itu dibiayai oleh tante saya sampai kelas 2 SMA.

Saat saya sedang melakukan pengecekan material sebelum membuat adukan beton.

Saya pernah merasakan sangat susahnya hidup ini bukan hanya sekali namun dua kali. Pertama kali saya merasakan saat kelas 3-4 SD. Saat itu, terasa tidak ada yang mengurus saya karena ibu sibuk mondar-mandir ke sana-sini ke rumah teman ayah saya untuk meminta bantuan. Saya juga hampir tidak naik kelas saat kelas 4 SD karena saya sering bolos sekolah saat itu dan ibu saya tidak tahu. Beranjak SMP saya merasakan pahitnya hidup sekali lagi tepat saat kelas 2 SMP. Saat itu, ibu saya memiliki usaha membuat dan menjual jajanan pasar, usaha ibu saya sedang lancar-lancarnya pada saat itu. Namun karena sebuah cekcok dengan keluarga adik nenek saya, kehidupan di kampung mulai terasa aneh dan tidak biasanya. Banyak tetangga yang mulai memusuhi kami dan sampai pada akhirnya saudara nenek saya menutup saluran air rumah saya sehingga air di rumah tidak bisa mengalir ke pembuangan. Setelah hal itu terjadi, ibu saya tidak bisa melakukan produksi usahanya di rumah. Ibu saya sudah tidak memiliki usaha lagi setelah itu dan hidup kami bergantung dari saudara ayah saya yang bertempat tinggal kurang lebih 4 km dari rumah. Setiap hari saya dan ibu ke rumah saudara saya, terkadang saya dan ibu juga menjadi tukang parkir di sebelah rumah saudara yang merupakan factory outlet. Hari terus berjalan dan akhirnya ibu saya memiliki modal lagi untuk memperbaiki saluran air di rumah dan memulai usahanya lagi. Beranjak SMA, biaya sekolah saya dibantu tante saya sampai kelas 2 SMA. Karena tante saya mengalami kebangkrutan saat itu, biaya sekolah di tahun terakhir dibiayai ibu saya. Puji syukur kepada Tuhan karena saat itu saya mendapat beasiswa BOS sampai 6 bulan sehingga beban ibu sedikit berkurang.

Saat sedang melakukan pengecekan pada beton yang harus direndam selama 28 hari.

Saya lulus SMA tahun 2015 namun baru kuliah di UAJY pada tahun 2016, dikarenakan pada saat saya lulus, ibu saya tidak memiliki dana yang cukup untuk kuliah di UAJY sehingga saya kuliah di ASMI. Kuliah di ASMI saya jalani selama 1 semester. Pada akhir semester 1, ibu saya bertanya apakah mau lanjut di ASMI atau pindah ke UAJY. Tentu saja saya sangat mau pindah ke UAJY. Akhirnya saya keluar dari ASMI dan menyiapkan dana untuk pindah ke UAJY. Untuk mengisi waktu saat itu, saya bekerja sebagai sales motor di Honda Mega Motor selama 5 bulan. Banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan saat bekerja. Salah satunya dalam hal penggunaan uang dengan bijak jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang. Sebelum diterima sebagai mahasiswa UAJY, saya menemui Romo Tri Wahyu saat itu untuk meminta keringanan tenggat waktu pembayaran uang gedung selama 15 bulan dan hal tersebut dapat membuat saya melanjutkan studi di UAJY.

Selama kuliah di UAJY saya merasa sangat senang dan bangga dapat melanjutkan studi sesuai dengan keinginan saya dahulu. Saya juga sempat mengikuti beberapa organisasi di UAJY, salah satunya anggota Civil Engineering Day 2017 dan 2018. Cita-cita saya setelah menyelesaikan studi di UAJY ialah dapat bekerja di pertambangan atau bekerja menjadi seorang kontraktor. Saya sangat ingin membahagiakan ibu saya yang sudah bersusah payah memasukkan saya ke UAJY dengan biaya yang tidak murah. Jadi sebisa mungkin saya harus berhasil dalam studi ini. Bukan hanya untuk ibu, namun saya juga ingin membantu anak-anak lain yang memiliki nasib seperti saya yang kesulitan dalam masalah perekonomian saat bekerja nanti. Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada KAMAJAYA Scholarship karena dapat membantu saya dalam kesulitan ekonomi ini.

No Comments

Post A Comment